1. KONSEP
LALLU LINTAS
Teori arus lalu lintas
adalah suatu kajian tentang gerakan pengemudi dan kendaraan antara dua titik
dan interaksi mereka membuat satu sama lain. Sayangnya, mempelajari arus lalu
lintas sulit karena perilaku pengemudi adalah sesuatu yang tidak dapat
diprediksi dengan pasti. Untungnya, pengemudi cenderung berperilaku dalam
kisaran cukup konsisten dan, dengan demikian, aliran lalu lintas cenderung
memiliki beberapa konsistensi yang wajar dan secara kasar dapat
direpresentasikan secara matematis. Untuk lebih mewakili arus lalu lintas,
hubungan telah dibuat antara tiga karakteristik utama: (1) arus, (2) kepadatan,
dan (3) kecepatan. Hubungan ini membantu dalam perencanaan, desain, dan operasi
fasilitas jalan.
Arus lalu lintas dibentuk oleh
pengendara dan kendaraan sehingga terjalin suatu interaksi keduanya serta
interksi antara kedua komponen tersebut terhadap jalan dan lingkungan.
Kendaraan yang memasuki suatu arus lalu lintas tidak mungkin berjalan secara
seragam karena ketidaksamaan pengemudi dalam hal ketrampilan mengemudi dan
pengambilan keputusan. Bahkan dapat dikatakan bahwa tidak ada keadaan dua lalu
lintas yang serupa sekalipun dalam kondisi yang setara, jalan dan kendaraan,
yang hal itu diakibatkan oleh perilaku dan kebiasaan pengemudi yang sangat
bervariasi.
Perilaku arus lalu lintas sangat
berlainan dengan perilaku suatu aliran suatu fluida yang melalui suatu saluran
terbuka atau pipa tertutup, yang perilakunya bisa diprediksi yakni mengikuti
hukum hidraulis dan aliran fluida. Karakteristik aliran lalu lintas yang
melewati suatu jalan merupakan variasi dari lokasi dan waktu. Suatu tantangan
bagi seorang Traffic Engineer ketika harus merencanakan dan mendisain
suatu lalu lintas, dia tidak cukup hanya memprediksi hal-hal yang bersifat
eksak melainkan juga memperhitungkan perilaku manusia sebagai road user yang
kompleks.
Walaupun
demikian, perilaku pengemudi dalam suatu aliran lalu lintas akan tetap
konsisten pada suatu range tertentu yang normal. Sebagai contoh pada
suatu ruas jalan dengan kecepatan disain 60 km/jam misalnya, pengemudi akan
cenderung menjalankan kendaraan pada kecepatan sekitar range tersebut
misalnya pada kecepatan antara 45 sampai dengan 65 km/jam, dan sedikit
pengemudi yang menjalankan kendaraannya pada kecepatan 70 km/jam atau di atas
80 km/jam.
Secara kuantitatif untuk keperluan disain arus lalu lintas, sekalipun karakteristik sangat bervariasi, perilakunya tetap dapat diprediksi pada suatu rentang yang normal. Dengan kata lain parameter-parameter tersebut harus bisa didefinisikan dan diukur, sehingga seorang Traffic Engineer akan bisa menganalisis, mengevaluasi, dan merencanakan dalam batas minimal berdasarkan batasan normal parameter-parameter di atas. Arus lalu lintas dibentuk oleh pengendara dan kendaraan sehingga terjalin suatu interaksi keduanya serta interaksi antara kedua komponen tersebut terhadap jalan dan lingkungan. Kendaraan yang memasuki suatu arus lalu lintas tidak mungkin berjalan secara seragam karena ketidaksamaan pengemudi dalam hal ketrampilan mengemudi dan pengambilan keputusan. Bahkan dapat dikatakan bahwa tidak ada keadaan dua lalu lintas yang serupa sekalipun dalam kondisi yang setara, jalan dan kendaraan, yang hal itu diakibatkan oleh perilaku dan kebiasaan pengemudi yang sangat bervariasi.
Secara kuantitatif untuk keperluan disain arus lalu lintas, sekalipun karakteristik sangat bervariasi, perilakunya tetap dapat diprediksi pada suatu rentang yang normal. Dengan kata lain parameter-parameter tersebut harus bisa didefinisikan dan diukur, sehingga seorang Traffic Engineer akan bisa menganalisis, mengevaluasi, dan merencanakan dalam batas minimal berdasarkan batasan normal parameter-parameter di atas. Arus lalu lintas dibentuk oleh pengendara dan kendaraan sehingga terjalin suatu interaksi keduanya serta interaksi antara kedua komponen tersebut terhadap jalan dan lingkungan. Kendaraan yang memasuki suatu arus lalu lintas tidak mungkin berjalan secara seragam karena ketidaksamaan pengemudi dalam hal ketrampilan mengemudi dan pengambilan keputusan. Bahkan dapat dikatakan bahwa tidak ada keadaan dua lalu lintas yang serupa sekalipun dalam kondisi yang setara, jalan dan kendaraan, yang hal itu diakibatkan oleh perilaku dan kebiasaan pengemudi yang sangat bervariasi.
Perilaku arus lalu lintas sangat berlainan dengan
perilaku suatu aliran suatu fluida yang melalui suatu saluran terbuka atau pipa
tertutup, yang perilakunya bisa diprediksi yakni mengikuti hukum hidraulis dan
aliran fluida. Karakteristik aliran lalu lintas yang melewati suatu jalan merupakan
variasi dari lokasi dan waktu. Suatu tantangan bagi seorang Traffic Engineer
ketika harus merencanakan dan mendisain suatu lalu lintas, dia tidak cukup
hanya memprediksi hal-hal yang bersifat eksak melainkan juga memperhitungkan
perilaku manusia sebagai road user yang kompleks.
Walaupun
demikian, perilaku pengemudi dalam suatu aliran lalu lintas akan tetap
konsisten pada suatu range tertentu yang normal. Sebagai contoh pada
suatu ruas jalan dengan kecepatan disain 60 km/jam misalnya, pengemudi akan cenderung
menjalankan kendaraan pada kecepatan sekitar range tersebut misalnya pada
kecepatan antara 45 sampai dengan 65 km/jam, dan sedikit pengemudi yang
menjalankan kendaraannya pada kecepatan 70 km/jam atau di atas 80 km/jam.
Secara kuantitatif untuk keperluan disain arus lalu lintas, sekalipun karakteristik sangat bervariasi, perilakunya tetap dapat diprediksi pada suatu rentang yang normal. Dengan kata lain parameter-parameter tersebut harus bisa didefinisikan dan diukur, sehingga seorang Traffic Engineer akan bisa menganalisis, mengevaluasi, dan merencanakan dalam batas minimal berdasarkan batasan normal parameter-parameter di atas.
Secara kuantitatif untuk keperluan disain arus lalu lintas, sekalipun karakteristik sangat bervariasi, perilakunya tetap dapat diprediksi pada suatu rentang yang normal. Dengan kata lain parameter-parameter tersebut harus bisa didefinisikan dan diukur, sehingga seorang Traffic Engineer akan bisa menganalisis, mengevaluasi, dan merencanakan dalam batas minimal berdasarkan batasan normal parameter-parameter di atas.
a.
Diagram ruang waktu
Diagram ruang waktu yang menunjukkan posisi kenderaan yang
bergerak dalam kaitannya dengan waktu
Para perekayasa lalu lintas menggambarkan lokasi kendaraan
pada waktu tertentu dengan menggunakan diagram ruang waktu. Diagram dua dimensi
menunjukkan lintasan kendaraan melalui ruang waktu dari asal yang tertentu
menuju tujuan tertentu pula. Beberapa kendaraan yang ditunjukkan dalam diagram
menunjukkan karakteristik yang tidak seragam dari masing-masing kendaraan
karena adanya perbedaan kecepatan, perilaku pengemudi, karakteristik kendaraan.
Diagram ruang waktu banyak digunakan dalam perencanaan
perangkat APILL (alat Pengendali Isyarat Lalu Lintas) secara lebih khusus dalam
melakukan koordinasi antar persimpangan[1] dalam kaitannya membentuk
gelombang hijau (green wave) agar meningkatkan effisiensi jaringan jalan di
perkotaan.
b.
Arus dan kepadatan
Arus
(q) = adalah jumlah kendaraan yang melalui suatu titik dalam satuan waktu
tertentu (kendaraan per jam)
Kepadatan
(konsentrasi) (k) = jumlah kendaraan (N) per satuan panjang jalan (L) (unit
kendaraan per kilometer)
dimana:
·
N = jumlah kendaraan yang melewati satu titik tertentu di
jalan dalam tmeansured sec
·
q = arus dalam satu jam
·
L = panjang jalan
·
K = kepadatan/density
c.
Kecepatan
Kecepatan
rata-rata ruang/Space mean speed
Kecepatan
rata-rata ruang () Didefinisikan sebagai rata-rata
harmonik kecepatan melewati suatu titik selama periode waktu. Hal ini juga sama
dengan kecepatan rata-rata pada suatu panjang jalan tertentu.
Kaitan
antara kecepatan rata-rata waktu dengan kecepatan rata-rata ruang
Perhatikan
bahwa kecepatan rata-rata waktu adalah kecepatan rata-rata melewati suatu titik
yang berbeda dari kecepatan rata-rata ruang berarti kecepatan yang kecepatan
rata-rata sepanjang panjang a.
Dua
kecepatan yang terkait sebagai
Sebagai
aturan praktis kecepatan rata-rata waktu yang berarti sekitar 2% lebih besar
dari kecepatan rata-rata ruang berarti yaitu kecepatan
dimana:
- = kecepatan rata-rata waktu
- = kecepatan rata-rata ruang
- = arus bebas (Kecepatan pada saat tidak macet)
Headway
Visualisasi
jarak antara dan waktu antara [2]
Jarak
antara
Jarak
antara () = Adalah perbedaan jarak antara
bagian depan kendaraan dengan bagian depan kendaraan berikutnya, yang
dinyatakan dalam m.
Jarak
antara rata-rata ()= Jarak antara rata-rata * Waktu
antara rata-rata
Keterkaitan
antara kepadatan dengan jarak antara adalah sebagai berikut:
Waktu
antara
Waktu
antara () = merupakan perbedaan waktu antara
bagian depan dari sebuah kendaraan melewati suatu titik tertentu dengan
kedatangan bagian depan kendaraan berikutnya dinyatakan dalam detik.
Waktu
antara rata-rata () = Rata waktu tempuh untuk satuan
waktu tertentu dikali Jarak antara rata-rata.
Dimana:
·
= Waktu antara kendaraan n
dan m
·
= Jarak antara kendaraan n
dan m
Hubungan
Arus dengan Kecepatan dan Kepadatan
Hubungan
antara peubah arus, kepadatan dan kecepatan lalu lintas ditunjukkan dalam
rumusan berikut:
Hubungan
antara besarnya arus/ volume lalu lintas dengan kecepatan(dalam hal ini
kecepatan sesaat) dengan kepadatan lalu lintas secara grafis pada gambar
sebagai berikut:
- Hubungan kecepatan dan kepadatan adalah linier yang berarti bahwa semakin tinggi kecepatan lalu lintas dibutuhkan ruang bebas yang lebih besar antar kendaraan yang mengakibatkan jumlah kendaraan perkilometer menjadi lebih kecil.
- Hubungan kecepatan dan arus adalah parabolik yang menunjukkan bahwa semakin besar arus kecepatan akan turun sampai suatu titik yang menjadi puncak parabola tercapai kapasitas setelah itu kecepatan akan semakin rendah lagi dan arus juga akan semakin mengecil.
- Hubungan antara arus dengan kepadatan juga parabolik semakin tinggi kepadatan arus akan semakin tinggi sampai suatu titik di mana kapasitas terjadi, setelah itu semakin padat maka arus akan semakin kecil.
Satuan
Mobil Penumpang
Satuan mobil penumpang disingkat SMP
adalah satuan kendaraan di dalam arus lalu lintas yang disetarakan dengan
kendaraan ringan/mobil penumpang, dimana besaran SMP dipengaruhi oleh
tipe/jenis kendaraan, dimensi kendaraan, dan kemampuan olah gerak. SMP
digunakan dalam melakukan rekayasa lalu lintas terutama dalam desain
persimpangan, perhitungan waktu alat pengatur isyarat lalu lintas (APILL),
ataupun dalam menentukan nisbah volume
per kapasitas jalan (V/C) suatu ruas jalan. Di Amerika dan Eropa, satuan
mobil penumpang dikenal dengan istilah passenger car unit atau PCU atau passenger
car equivalent (PCE).
Besaran
SMP
Besaran
satuan mobil penumpang bervariasi menurut lokasi apakah itu di perkotaan atau
di jalan raya, ataupun di persimpangan. Tabel berikut menunjukkan satuan mobil
penumpang yang biasanya digunakan di Indonesia yang diolah dari berbagai sumber
termasuk manual kapasitas jalan Indonesia ditunjukkan dalam daftar berikut:
|
Jenis kendaraan
|
Jalan raya
|
Perkotaan
|
|
Mobil
penumpang, taxi, pickup, minibus
|
1
|
1
|
|
Sepeda
motor
|
0,5
- 1
|
0,2
- 0,5
|
|
Bus,
truk 2 dan 3 sumbu
|
3
|
2
|
|
Bus
tempel, truk > 3 sumbu
|
4
|
3
|


